Showing posts with label Scholarship. Show all posts
Showing posts with label Scholarship. Show all posts

Thursday, June 23, 2016

Manusia yang Mengejar Beasiswa


// Cerita ini adalah landasan menuju cerita selanjutnya. Disini akan terangkum cerita tentang kekuatan naluri dan logika, yang merupakan fitrah dasar bagi seorang manusia, dalam mengejar sebuah keinginan dan ambisi. "Oportunis" adalah sebuah istilah yang banyak dipakai disaat naluri bercampur dengan logika hingga menghasilkan sebuah pemikiran tak mau rugi mumpung ada kesempatan, sikatt!. Begitu para kaum "Oportunis" berpikir. Bukan di dalam hati dan juga bukan di dalam pikiran, melainkan diantara keduanya (Bingung kan??).

/ Bukti nyata bahwa manusia itu "Oportunis" yang paling sederhana adalah saat para Sarjana S1 pergi ke "Job Fair". Apakah mereka hanya akan memasukkan Curriculum Vitae (CV) mereka ke 1 booth perusahaan saja? Kebanyan dari kita pasti akan menjawab dan berpikiran hal yang sama, para "Job Hunter" ini pasti akan memasukkan CV nya ke banyak booth perusahaan tanpa berpikir perusahaan apa itu. Mereka hanya melihat bahwa ada lowongan yang sesuai dengan pendidikan S1 mereka dan posisi lowongan yang cukup menggoda (seperti Officer Development Program (ODP), Management Trainee (MT), Management Development Program (MDP), dan segala posisi yang menjanjikan jenjang karir dan potensi gaji yang tinggi). Mengapa mereka memasukkan CV mereka ke berbagai perusahaan yang ada di "Job Fair" itu? Jawabannya sederhana, adalah sebuah hal yang manusiawi dan lumrah apabila manusia itu adalah makhluk "Oportunis". Ya, para "Job Hunter" ini tidak akan tahu perusahaan mana yang akan meloloskan mereka ke tahap selanjutnya, sehingga mereka akan berjaga-jaga bila target utama perusahaan mereka tidak menerima mereka. Cara berjaga-jaganya adalah dengan meng-apply ke perusahaan lain (mumpung di "Job Fair" masa cuma apply 1 perusahaan? -- nah ini contoh pernyataan oportunis. Pernah kepikiran kayak begini kan?).

/ Begitu halnya dengan saat para Sarjana maupun Magister mencari beasiswa untuk melanjutkan studi mereka. Berbagai "Education Fair" baik offline maupun online disambangi oleh mereka. Sehingga banyak sekali informasi tentang berbagai beasiswa yang ada di dunia ini. Lalu apakah mereka hanya akan meng-apply 1 beasiswa saja apabila berbagai beasiswa tersebut eligible dan suite dengan kondisi mereka? Sama seperti para "Job Hunter" yang berada di "Job Fair", pasti mereka akan apply beasiswa-beasiswa yang ada di depan mata mereka dengan tidak terlalu memperdulikan apa beasiswa itu dan bagaimana fundingnya, selama beasiswa itu meng-cover semua biaya selama kuliah, para "Scholarship Hunter" akan melahapnya. Mengapa mereka begitu "tamak" melahap semua beasiswa yang ada? Ya, jawabannya sama dengan pemikiran para "Job Hunter" di atas, "Scholarship Hunter" (yang merupakan seorang manusia) tidak tahu beasiswa mana yang akan tembus, sehingga mumpung ada kesempatan untuk apply, mengapa tidak?

/ Hal yang paling sulit adalah ketika kita diterima pada beberapa beasiswa. Dulu ketika menjadi "Scholarship Hunter" kita pasti dengan entengnya berpikir bahwa Aku bakal pilih beasiswa yang ini kalau beasiswa-beasiswa yang aku apply tembus semua, tapi kalo yang tembus beasiswa yang bukan tujuan utamaku ya ngga apa-apa, yang penting lanjut studi S2/S3. Apalagi kalau yang ke luar negeri pasti mikirnya, "Yang penting kuliah di luar negeri". Nah, saya bisa memastikan bahwa pemikiran-pemikiran itu tidak akan seindah bayangan kita setelah kita mendapat "luxury opportunity" penawaran dari beberapa beasiswa.

/ Ketidakindahan pemikiran itu saya alami sendiri dan semua kembali pada Jumat, 10 Juni 2016 17.18 WIB Jakarta. Saat itu saya sedang menonton "Now You See Me 2" di Plaza Kalibata bersama Hafi (ada nama ini lagi, seperti di cerita-cerita sebelumnya). Lagi enak-enaknya nonton bagian akhir dari film itu, dimana para pesulap dijatuhkan dari pesawat oleh si pengusaha dan anaknya yang berpikir mereka telah menang, namun ternyata justru cerita baru untuk mereka segera diungkap (yahh spoiler kann..haha), tiba-tiba Hafi membuka HP nya yang terus bergetar dan memberitahu saya bahwa pengumuman Beasiswa LPDP (pasti tau kan ya beasiswa apa ini? :p) sudah keluar dan diinformasikan melalui email masing-masing peserta. Saya, dengan mata melihat ke layar lebar (ngga mau ketinggalan momen cerita filmnya dan ngga mau rugi 1% saja dari harga tiket 40 ribu), akhirnya membuka email dan Dasssss....huruf LULUS bold font calibri bertengger di email saya dari LPDP. Ketika orang lain mungkin bahagia sambil menari-nari dan menyanyi-nyanyi girang setelah membaca email itu, saya justru harus berpikir keras, sekeras sistem pengamanan di pusat laboratorium teknologi tempat kartu "sakti" pengusaha IT diletakkan dan kemudian berhasil dicuri oleh "The Four Horseman" (para pesulap di film Now You See Me) dengan penuh perjuangan.

/ Pemikiran keras itu dan ketidakindahan pemikiran itu sama-sama bersumber dari email yang masuk ke inbox primary saya. Email tanggal 25 Mei 2016 dan 10 Juni 2016. Email dari StuNed Scholarship Programme dan LPDP. Email yang menyatakan saya lolos beasiswa. Email yang mengubah penentuan sejarah hidup saya dan memberikan alur cerita inspirasi baru bagi anak-cucu saya kelak di masa depan. Ya, saya diterima 2 beasiswa. Ya, saya meng-apply 2 beasiswa dengan negara tujuan kuliah S2 yang sama, Belanda; Negeri Van Oranje, Negeri di bawah laut. Kedua email itu berhasil menyulut pergulatan batin saya untuk memilih satu di antara dua. Lebih susah daripada memilih dua diantara tiga (Opooseeehh?? haha). Setelah film selesai dan setelah buka puasa, sambil makan, saya meminta masukan dari berbagai pihak. Yang pertama jelas Hafi yang memang sudah jadi awardee LPDP batch IV tahun 2015 lalu, yang merekomendasikan terima yang StuNed saja. Hal senada juga diberikan oleh Ayah dan beberapa teman saya. Pak Achmad Djunaedi (Pak Adjun) yang merupakan pembimbing tesis saya, lebih menitikberatkan pada pemilihan program studi yang akan saya ambil. Ya, saya memilih dua universitas dan program studi yang berbeda untuk kedua beasiswa tersebut. Untuk StuNed saya memilih Wageningen University dengan program Master Urban Environmental Management sepesialisasi Urban System Engineering, sedangkan untuk LPDP saya memilih Erasmus University Rotterdam dengan program Master Urban Management and Development spesialisasi Managing and Financing Urban Infrastructure. Setelah berpikir sekitar 1 minggu dan bertanya tentang proses pindah universitas di LPDP, tibalah "the moment of truth".

/ 15 Juni 2016, hari dimana StuNed akan memberikan "Awardee Letter" untuk para penerima beasiswa StuNed 2016. Walaupun sebelum memberikan awardee letter saya sudah dikirimi visa entri, form universitas, dan insurance dari Wageningen University. Pagi hari, disaat sedang naik Grab Bike yang melintasi jalan-jalan tikus Jakarta untuk menghindari macet jam 07.30, saya mengirim email kepada Bang Joni salah satu tim StuNed dan meminta penangguhan pengunduran diri dari StuNed untuk menunggu keputusan persetujuan pindah universitas dari LPDP. Siangnya ketika sedang nongkrong di foodcourt Kalibata Square bersama Hafi dan Arni (seorang awardee LPDP juga; mau ambil S2 di Wageningen University juga), saya mendapat email balasan dari StuNed, namun bukan Bang Joni yang membalas email saya, melainkan Bu Indy (Koordinator Beasiswa StuNed 2016). Email beliau membuat saya sadar sepenuhnya. Seseorang yang mendapat dua beasiswa sekaligus, membuktikan bahwa dia memang terbukti memiliki potensi menjadi seorang pemimpin di masa depan. Dan seseorang yang memiliki jiwa pemimpin pasti memiliki skill yang baik untuk membuat keputusan dan mengambil risiko, and right now you have to decide it! (Ini Bu Indy lho ya yang ngomong lewat email, bukan saya). Dari kata-kata itu, saya akhirnya tersadar dan teringat pada sebuah pepatah yang menyatakan bahwa "Hidup itu adalah pilihan, To Live is To Choose". Karena saya diberi waktu untuk mengambil keputusan by noon hari itu juga, sesaat setelah tesadar, saya langsung menentukan pilihan (dengan sebelumnya menelepon Kakak saya terlebih dahulu untuk meminta restu dan masukan). Pukl 12.30 WIB tepat email pengunduran diri saya yang saya tujukan kepada tim beasiswa StuNed terkirim (setelah hampir 30 menit membuat kata-kata pengunduran diri). Hati ini sedikit lega, walaupun tidak lega-lega banget sehabis meninggalkan StuNed karena saya masih ingat dengan kehangatan tim StuNed terutama Bu Indy yang dengan karisma dan keramahannya menjadi pengayom bagi seluruh awardee StuNed saat welcoming session StuNed Scholarship Programme 2016. Selain itu, banyak hal yang masih mengganjal di benak saya, mulai dari gimana caranya ngasih tau ke Wageningen University kalau saya sudah bukan lagi awardee StuNed (karena saya sudah dibuatkan AON Insurance atas nama funding StuNed), hingga was-was dengan keputusan pindah universitas (dari Erasmus University Rotterdam ke Wageningen University dari LPDP). But show must go on and we have to let the other go, just face it! Mulailah saya berpredikat sebagai awardee LPDP dengan segudang rasa was-was dan ketidaktenangan karena harus menjelaskan tentang kondisi saya kesana sini.
__________
/ Intermezzo: Bukan hanya saya yang bernasib dan berpemikiran "Oportunis" seperti di atas. Ada 2 lagi teman saya awardee StuNed 2016 yang mengajukan pengunduran diri kepada StuNed karena sudah membuat keputusan untuk mengambil beasiswa LPDP nya. Dan by the way, saat mengirim email pengunduran diri, kami mengirimnya serempak pada waktu yang sama karena ternyata kami sama-sama pekewuh kepada StuNed dan ragu akan meninggalkan StuNed dengan Bu Indy nya yang sangat baik dan open minded itu. Dan btw lagi, NESO dan tim beasiswa StuNed, saya akui, adalah orang-orang dengan kualitas SDM "Belanda". Mereka sangat "welcome" dengan diskusi dan cerita-cerita awardee StuNed yang seperti saya dan teman-teman saya itu (yang tidak hanya diterima di StuNed tapi juga beasiswa lain). Hebatnya lagi, Bu Indy tidak pernah menghakimi atau dalam bahasan sekarang nyinyir beasiswa lain saat berdiskusi dengan kita. Semuanya didiskusikan dengan sudut pandang netral dan dengan pikiran demi masa depan SDM Indonesia! Lihat saja tulisan Bu Indy di kanal kompas keesokan harinya (16/06/2016) yang, saya sadar, menyingung kami yang dobel beasiswa, hehe. Namun positifnya, kami bisa jadi inspirasi tulisan Bu Indy, warbiasak!

/ Setelah mengundurkan diri, mulailah perjuangan saya untuk menjalani berbagai macam hal yang disyaratkan oleh LPDP kepada awardee-awardee nya. Rasa was-was makin memuncak, kertidaktenangan semakin tinggi, namun nafsu makan jadi menurun. Hal ini disebabkan karena sistem manajemen pra-persiapan keberangkatan LPDP yang bombastis sekali. Btw, setelah mengalami pra-persiapan keberangkatan LPDP, saya jadi memahami apa yang ditulis oleh Bu Indy di kanal kompas (16/06/2016). Namun inilah risikonya, kita harus terus jalani dengan sabar dan tabah. Saya yakin satu per satu rasa was-was dan ketidaktenangan ini akan terlepas. Dan bagi teman-teman yang ingin tahu pengalaman saya melalui proses seleksi LPDP, silakan baca cerita nyata dongeng saya Apply Beasiswa LPDP (coming soon).

--Hingga saat post ini dibuat, saya masih berada di PK-75 dengan perkiraan jadwal PK 22-26 Agustus 2016. Sedangkan mulai kuliah saya tanggal 1 September 2016. Jika belum bisa pindah kelompok PK, maka saya akan melewatkan kesempatan sekali seumur hidup untuk merasakan orientasi universitas tanggal 19-24 Agustrus 2016 (yang bagi saya ini sangat penting, kalo ngga penting ya seperti OSPEK saat S1 jangan diwajibkan :p). Praktis saya hanya punya waktu 5 hari (27, 28, 29, 30, 31 Agustus) sebelum berangkat menuju Negeri Van Oranje. Sementara dana beasiswa baru bisa cair setelah PK selesai dan menandatangani kontrak beasiswa, dan menurut saya kontrak beasiswa akan efektif di tanggal 29 Agustus. Praktis tiket pesawat baru saya kantongi sekitar tanggal 30/31 Agustus. Turun dari pesawat, menuju Wageningen City, masuk universitas, melapor ke Gedung "Forum", terus lanjut kuliahh!! hahahaha. Luar Biasa Superr Sekali Bukan, Bung!
(BTW, kerasa kan was-was dan ketidaktenangannya?? haha, percayalah saya sudah khatam dengan perasaan itu ketika menjalani hal-hal terkait pra-persiapan keberangkatan ini semua, haha).
--Sesat setelah saya post cerita ini. Akhirnya saya mendapat kabar baik, bawha saya dapat pindah PK, ke PK 70 dengan jadwal 18-23 Juli 2016. Alhamdulillah. Satu rasa was-was dan ketidaktenangan lepas.

Tuesday, June 21, 2016

Welcoming Session StuNed Scholarship Programme 2016

// Sabtu, 4 Juni 2016 di Kantor Nuffic Neso Indonesia, Menara Jamsostek Lt. 20 Jakarta. Setelah Apply Beasiswa StuNed dan diterima menjadi awardee StuNed 2016.
Tuuttt tuuttt gujes gujesss....bunyi kereta ekonomi malam Jogjakarta-Jakarta berhenti di stasiun Jatinegara pada pukul 01.30 WIB hari Sabtu, 4 Juni 2016. Setelah hampir batal naik kereta progo jurusan Lempuyangan-Pasar Senen (karena baru check in/tukar tiket 3 menit sebelum jadwal keberangkatan jadi harus berebut dengan penumpang lain yang juga panik untuk dapat men-tut-kan barcode/kode booking ke mesin komputer), duduk di dekat lorong dan dikelilingi oleh para manula (harusnya saya duduk di kursi 20-A, tapi ada simbah-simbah yang sudah kadung duduk disitu, yasudah batal sudah ritual tidur nyaman dengan kepala bersandar di jendela kereta), dan pegal tulang ekor, akhirnya saya tiba juga di Jakarta pada dini hari itu. Dengan menggunakan GoJek, saya meluncur menuju kompleks apartment Kalibata City (Hasekkk, apartment cuy! tapi saya sebagai orang kampung, mending tinggal di rumah kampung daripada disitu -- no offense). Tujuan saya ke Jakarta saat itu selain datang ke acara Welcoming Session Beasiswa StuNed 2016, juga mengurus legalisir akta kelahiran yang merupakan syarat untuk mengajukan residence permit di Wageningen Manucipality, Belanda.
/ Pukul 02.00, GoJek berhasil menghantarkan saya di Gate II kompleks apartment Kalibata City, Jakarta Selatan. Tentu itu bukan apartement saya (duit dari mana bisa beli apartment di Jakarta? :p), melainkan milik tante dan om nya Hafi (sekali lagi, nama ini muncul kembali, nantikan cerita khusus tentang ini). Sampai di meeting point, saya disambut oleh Hafi dan seorang teman satu angkatan saya di PWK UGM, yitu Efra (Pace Papua berdarah Sumatera). Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB saat pembicaraan saya, Hafi, dan Efra berhenti dan kami semua terlelap dalam buai mimpi yang tak kesampaian.
/ Waktu menunjukkan pukul 07.30 saat saya beranjak dari Kalibata City menuju ke kantor Nuffic Neso Indonesia di Jalan Gatot Subroto, sekali lagi perjalanan singkat kali ini saya menggunakan jasa GoJek. Pukul 08.15 WIB saya sudah sampai di lantai 20 menara jamsostek (setelah tanya sana sini dan berlagak seperti orang berkelas -- padahal dari kampung). Di depan pintu kantor Nuffic Neso Indonesia, saya bertemu mbak CanCan "Yahuud" dan beberapa orang. Sekitar pukul 09.00, di sebuah ruang yang nyaman penuh dengan buku-buku profil-profil program studi universitas-universitas Belanda, kami hampir 60 awardee beasiswa StuNed 2016 berkumpul dan mendengarkan sambutan dari direktur NESO Indonesia, yaitu Mr. Mervin Bakker yang menyatakan bahwa para awardee harus Have Fun! selama kuliah di Belanda (Belanda sendiri adalah salah satu kota terbahagia di dunia versi UN dalam laporannya "World Happiness Report 2016". Setelah itu tibalah paparan oleh koordinator beasiswa StuNed 2016 Ibu Indy Hardono yang banyak menceritakan tentang ke-StuNed-an. Salah satu paparannya adalah beliau menceritakan bahwa Kedubes Belanda hanya meminta 1 persyaratan bagi orang yang akan diterima dalam beasiswa StuNed yaitu Beasiswa Belanda Hanya Untuk Calon Orang No.1 di indonesia! seperti yang dimuat dalam kanal kompas (8/6/2016). Setelah paparan dari Bu Indy, lanjut paparan oleh  Bang Joni dan Mbak Okta sebagai officer StuNed yang setia melayani pertanyaan-pertanyaan para aplikan StuNed. Paparan dari kedua officer tersebut lebih pada terms and regulations beasiswa StuNed itu sendiri, termasuk pendanaan dan lainnya.
/ Setelah coffee break dan tanya jawab, sampailah di penghujung acara. Welcoming Session ini begitu menyenangkan karena Saya dapat bertemu dengan orang-orang hebat di Negeri ini dari berbagai latar belakang. Satu lagi area networking masa muda sebagai investasi networking di masa mendatang. Setelah potret-potret bareng (walaupun saya hanya terlihat sebagai planet mars jika dilihat dari bumi, tapi gapapalah yang penting dapet kenangan) dan berkumpul dengan awardee dengan universitas tujuan yang sama dengan saya, yakni Wageningen University, akhirnya saya kembali ke apartemen Kalibata City untuk makan siang (bikin bakmi goreng indomie mantab) dan tertidur. Menginat Senin adalah hari pertama puasa sekaligus berjuang Mengurus Sendiri Legalisir Akta Kelahiran. Ceritaa teruss berlanjutt....
_________
/ Memories:
Berita Welcoming Session StuNed 2016 kanal kompas (6/6/2016)Displaying IMG-20160605-WA0001.jpg

Apply Beasiswa StuNed


// Setelah mendapatkan LoA Unconditional dengan mendaftar Universitas, bila tidak ada uang untuk bayar kuliah di luar negeri, ambillah jalur beasiswa dijamin ngga akan keluar biaya untuk kuliah (masa sih pak? :p).

/ Post ini akan menceritakan tentang salah satu dongeng dalam kehidupan saya yang menjadi kenyataan, yakni menjadi Awardee Beasiswa StuNed. Jujur saja, saya baru mengetahui keberadaan beasiswa ini setelah kepo di websitenya Neso Indonesia. Ternyata ada beberapa ragam jenis beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Belanda melalui NESO (Netherlands Education Support Office), diantaranya beasiswa StuNed ini.

/ Apa itu beasiswa StuNed?? (Hasyah, pertanyaan ini mah udah ada banyak di blog-blog sebelah, basi) Oke, kalo gitu mari kita awali dengan ini...Pada Zaman dahulu, seperti yang kita ketahui, Belanda merupakan salah satu negara penjajah Indonesia, namun jangan artikan bahwa berarti kita harus membenci Belanda. Suku kata "jajah" pada kata penjajahan tersebut tidak sepenuhnya berarti negatif. Mari kita lihat sisi positifnya, karena penjajahan Belanda di Indonesia, banyak pendiri bangsa kita yang dapat menghimpun ilmu di negara Belanda (pada saat Belanda masih menjajah Indonesia dan bahkan saat Belanda sendiri belum mendapatkan kemerdekaannya), sebut saja Bung Hatta yang sekolah di Erasmus University Rotterdam; Sutan Syahrir di Amsterdam University; Sunario Sastrowardoyo di Leiden University; dan masih banyak lagi. Banyak hal yang kemudian Indonesia masih aplikasikan hingga sekarang dari peninggalan sistem dan ilmu bangsa Belanda yang menjajah lebih dari 3 abad. Setelah penjajahan oleh Belanda benar-benar berakhir dengan kesepakatan Konferensi Meja Bundar (walaupun kalo di fotonya mejanya tidak benar-benar bundar, agak lonjong dikit, liat aja kalo ngga percaya) antara Bung Hatta dengan Ratu Belanda saat itu, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, hubungan Belanda-Indonesia semakin berkembang hingga setelah krisis moneter, tepatnya tahun 2000, NESO masuk ke Indonesia dan memnyelenggarakan apa yang kemudian kita sebut sebagai beasiswa StuNed (Studeren in Nederland). Berdasarkan paparan dari Bu Indy (Koordinator StuNed Scholarship Programme 2016), pada tahun 2000 hingga 2012 (CMIIW), kerangka pendanaan beasiswa StuNed dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Indonesia adalah berupa Aid atau Bantuan, sehingga sifatnya adalah dari pemberi (Belanda) ke penerima (Indonesia) -- ibarat tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. So, dari tahun 2000-2012, mayoritas yang lolos beasiswa StuNed merupakan mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja dan sesuai dengan bidang prioritas kerjasama bilateral Belanda-Indonesia (kebanyakan yang diterima adalah PNS dan pegawai BUMN/swasta). Namun pada tahun 2013, setelah perdana menteri Belanda berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengan SBY (presiden Indonesia saat itu), terjadi perubahan kerjasama bilateral antar kedua negara. Pada tahun itu, Belanda memandang bahwa Indonesia bukan lagi negara miskin yang perlu Bantuan, namun sudah menjadi negara menengah dan semi-developed country. Walhasil, kerangka pendanaan beasiswa StuNed yang tadinya berupa Bantuan berubah jadi "Partnership", sehingga posisi Belanda dan Indonesia adalah sama, tidak ada lagi tangan yang di atas yang memberi dan tangan yang di bawah yang menerima. Sasaran awardee pun juga berubah, yang tadinya mayoritas PNS/Pegawai BUMN, berubah menjadi lebih beragam, seperti profesional NGO, dosen, wartawan, dan lain sebagainya. Bahkan di tahun 2016, StuNed terbuka untuk freshgraduater dan awardee makin banyak berasal dari beragam latar belakang, salah satunya entrepreneur.

/ Proses seleksi beasiswa StuNed terbilang sederhana, hanya Seleksi Berkas Administratif saja!. Mulai tahun 2013, seleksi dengan menggunakan metode wawancara (baik tatap muka maupun by phone) ditiadakan karena melihat rekam jejak awardee-awardee sebelumnya yang memang menunjukkan kualitas yang layak untuk menjadi awardee beasiswa StuNed, sehingga tim StuNed percaya bahwa dengan seleksi berkas dengan metode sedemikian rupa, mereka dapat menghimpun orang-orang yang memang layak untuk diberi beasiswa ini. Namun demikian, walaupun terlihat sederhana (hanya seleksi berkas saja), proses seleksi beasiswa StuNed malah menjadi lebih sulit. Namun tim beasiswa StuNed percaya bahwa mereka bisa mendapatkan calon awardee yang Best of The Best, begitu setidaknya komentar Bu Indy selaku koordinator beasiswa StuNed di dalam kolom komentar facebook saya dimana post ini dishare. Saya sendiri mendaftar beasiswa StuNed sesaat setelah saya mendapatkan LoA Unconditional dari Wageningen University, saat itu sekitar Awal Maret 2016 (Note: Deadline pengumpulan berkas -- hardcopy, paling lambat adalah 1 April di tiap tahunnya; StuNed juga mewajibkan peserta untuk sudah mendapat LoA Unconditional terlebih dulu sebelum mendaftar beasiswa StuNed).

/ Pada saat mempersiapkan pendaftaran, setelah saya mengunduh format formulir pendaftaran dan format Curriculum Vitae (CV) dari website Neso Indonesia, saya mencoba untuk meminta bimbingan dari kakak angkatan saya Mas Irsyad yang merupakan awardee beasiswa StuNed tahun 2014. Karena beliau masih kuliah S2 di Belanda, diskusi kami hanya bermodal Facebook Messenger dan berkat media ciptaan Mark Zuckerberg itulah saya dapat mengisi tiap kolom dalam formulir pendaftaran dan CV dengan sempurna (terutama pada formulir pendaftaran nomor 6, yakni motivational statement yang berisi 3 pertanyaan, namun susahh sekali ngisinya). Selanjutnya menyiapkan dokumen-dokumen pelengkap sesuai dengan yang tertera di website Neso Indonesia. Namun, karena seleksinya hanya berkas administratif saja, saya berpikir bahwa saya harus all out dalam berkas-berkas saya. Sehingga selain dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh NESO, saya menambahkan dokumen-dokumen lain yang mendukung CV dan formulir pendaftaran saya, seperti fotokopi sertifikat-sertifikat seminar, abstrak paper/karya ilmiah, sertifikat penghargaan, surat perjanjian beasiswa saat S1, hingga akta pendirian badan usaha yang saya miliki (kebetulan pada Juni 2015, saya mendirikan sebuah badan usaha bernama CV.Cities Plus, bersama dengan dosen saya Mas Iwan dan teman satu angkatan saya Okki). Cukup lama saya mengisi dan mempersiapkan dokumen pendaftaran beasiswa StuNed ini karena saya selalu meninjau kembali seluruh dokumen yang akan saya kirim (Jelas bro..cuma seleksi berkas administratif, antara hidup dan mati kalo kayak gini). Dan akhirnya sekitar tanggal 20-an Maret 2016, saya kirim seluruh berkas (Original dan Fotokopi) melalui jasa kurir yang saya percaya, JNE, dengan mengucap Bismillahirohmanirohim.

/ 25 Mei 2016, 09.42 di Lab Komputer PWK UGM Lt.2 Jogjakarta. Kebetulan hari itu habis di php in dosen yang katanya mau kumpul diskusi proyek pagi-pagi dan ternyata ngga jadi, yasudah ngadem aja dii labkom sambil mainan komputer desktop windows XP pentium 4 milik PWK UGM. Email saya masih dalam keadaam sign in saat sebuah email masuk ke dalam inbox primary saya. Ternyata dari StuNed dengan judul "bla bla bla - Congratulations". Saya membukanya sambil menerapkan ilmu ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Dan ternyata email tersebut berisi pernyataan bahwa saya telah terpilih menjadi penerima beasiswa StuNed. Saya balas email itu dengan menyatakan bahwa saya terima beasiswa itu. Alhamdulillah.

/ Setelah itu, beberapa teman yang tergabung dalam grup line "Preparation Stuned" saling bertanya tentang kelolosan masing-masing. Salah satu teman juga men-share salah satu berita di kanal kompas (25/05/2016) tentang hasil seleksi beasiswa StuNed yang ternyata hanya terseleksi 60 orang saja yang berhak mendapatkan beasiswa dari StuNed (dari 5000 aplikasi yang masuk -- katanya sihh).

/ Hal selanjutnya adalah hadir di acara Welcoming Session StuNed Scholarship Programme 2016 di kantor NESO Indonesia Jakarta. Dan cerita masih berlanjut.....

UPDATE:
Pada tahun 2017 ini, panitia StuNed Scholarship Programme mulai menggunakan form aplikasi online, namun dengan persyaratan beasiswa yang masih sama. Silakan berkunjung di link berikut StuNed - Master

INFO:
Saat ini penulis merupakan penerima beasiswa (Awardee) LPDP RI, mengambil program Master in Urban Environmental Management di Wageningen University. Sebelum menerima beasiswa LPDP, penulis sudah secara sah menggugurkan diri sebagai penerima beasiswa StuNed.

________
/ Seriousilicious: 
Tips-tips agar lolos beasiswa StuNed berdasarkan feeling dan judgement pribadi saya terhadap pengalam saya yang diterima sebagai awardee StuNed 2016:
1. Bacalah dengan saksama setiap petunjuk dan kata-kata yang ada pada website NESO, formulir pendaftaran, dan form CV.
2. Pada formulir pendaftaran, yang sangat menentukan adalah pada nomor 6, yakni motivational statement yang terdiri dari 3 pertanyaan. Jawablah tiap pertanyaan dengan mengedepankan keterkaitan antara latar belakang Anda (akademis maupun non akademis), program studi tujuan Anda, bidang prioritas beasiswa StuNed, dan dampak ilmu Anda bagi Indonesia setelah Anda lulus. Kaitkan selogis, segamblang, semenarik, dan serapih mungkin!. Hal ini karena beasiswa StuNed mencari calon-calon awardee yang "Excellence" dengan standar penilaian SDM versi Belanda.
3. Pada form CV, isilah dengan memaparkan seluruh hal yang bisa maupun sedikit bisa Anda lakukan. Berikan semua pengalaman yang pernah Anda lakukan (seminar, pengalaman kerja, study field, dan lainnya). Kemudian isilah kolom-kolom yang terkait dengan skill sebanyak dan secantik mungkin. Intinya, isilah Form CV tersebut dengan hasil akhir yang mana ketika orang lain membacanya, mereka dapat berdecak kagum dan terpana melihatnya.
4. Lampirkan seluruh dokumen lain yang tidak dipersyaratkan dalam website NESO.
5. Carilah orang yang pernah jadi awardee StuNed untuk dijadikan sebagai pembimbing selama mengisi Form dan mempersiapkan dokumen pendaftaran.
6. Jangan jadi deadliners! Hal ini karena berkas-berkas hardcopy harus sudah berada di kantor NESO Indonesia (di Jakarta) paling lambat tanggal 1 April.
7. Setelah ikhtiar, bertawakallah. Lepaskan semua pikiran tentang apply beasiswa StuNed. Terapkan ilmu ikhlas.